Artikel Terbaru
Ke Mana Zakat yang Kita Tunaikan Disalurkan?
Zakat yang ditunaikan oleh masyarakat tidak hanya menjadi bentuk pemenuhan kewajiban agama, tetapi juga memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kesejahteraan umat. Melalui pengelolaan yang terencana, zakat disalurkan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Banten mengelola dana zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS DSKL) untuk kemudian didistribusikan melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Penyalurannya mencakup 5 bidang atau program utama seperti pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, serta dakwah dan advokasi.
Dalam bidang pendidikan, dana zakat dimanfaatkan untuk mendukung akses pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan seperti Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana, Beasiswa Cendekia BAZNAS, Beasiswa Insidentil dan lainnya. Di bidang kesehatan, BAZNAS menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, salah satunya dengan berdirinya Rumah Sehat BAZNAS yang merupakan klinik tanpa kasir. Sementara itu, melalui program ekonomi, zakat didayagunakan untuk membantu mustahik mengembangkan usaha dan membangun kemandirian ekonomi.
Selain itu, dana ZIS DSKL juga disalurkan melalui berbagai program kemanusiaan dan sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang terdampak kondisi darurat maupun bencana melalui satuan BAZNAS Tanggap Bencana. Dan yang terakhir yaitu program dakwah advokasi yang bertujuan menyebarkan syiar Islam, memperkuat akidah, serta mendampingi kelompok masyarakat yang membutuhkan pembinaan khusus juga Pembangunan & Renovasi Sarana Ibadah.
Seluruh proses pengelolaan dan pendistribusian zakat dilakukan dengan memperhatikan ketentuan syariat serta prinsip amanah, transparansi, dan akuntabilitas.
Melalui pengelolaan zakat yang tepat, BAZNAS Provinsi Banten berupaya memastikan bahwa zakat yang ditunaikan masyarakat tidak hanya sampai kepada penerima yang berhak, tetapi juga memberikan manfaat dan dampak nyata bagi kehidupan mereka.
ARTIKEL05/11/2026 | Amalia
8 Keutamaan Sedekah dalam Islam yang Perlu Diketahui Setiap Muslim
Banyak orang menunda sedekah karena merasa hartanya belum cukup. Padahal Islam mengajarkan bahwa sedekah bukan beban, melainkan jalan menuju kebaikan yang luas. Memahami keutamaan sedekah dalam Islam akan membuat kita lebih ringan, ikhlas, dan konsisten dalam memberi.
Artikel ini merangkum delapan keutamaan sedekah beserta dalilnya dari Al-Qur’an dan hadis, ditambah adab yang perlu dijaga. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
1. Pahala yang Dilipatgandakan
Allah mengumpamakan orang yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki (QS. Al-Baqarah ayat 261).
Rasulullah juga menjelaskan bahwa Allah menerima sedekah dari hasil usaha yang halal, lalu memeliharanya untuk pemiliknya hingga sedekah sebesar sesuap makanan menjadi sebesar gunung Uhud (HR. Bukhari dan Muslim). Tidak ada investasi dunia yang menjanjikan pertumbuhan seperti ini.
2. Menghapus Dosa
Rasulullah bersabda bahwa sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api (HR. Tirmidzi). Kita adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan, dan sedekah menjadi salah satu amal yang Allah jadikan sebab diampuninya dosa.
Tentu sedekah tidak menggantikan taubat. Ia melengkapinya, disertai penyesalan, tekad meninggalkan dosa, dan menunaikan hak sesama.
3. Naungan di Hari Kiamat
Rasulullah bersabda bahwa setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya sampai perkara di antara manusia diputuskan (HR. Ahmad). Pada hari yang sangat berat itu, sedekah menjadi pelindung bagi pelakunya.
Dalam hadis lain disebutkan tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, di antaranya orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Penjaga dari Api Neraka
Rasulullah memerintahkan kita menjaga diri dari neraka walau dengan separuh butir kurma (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini menunjukkan bahwa nominal bukan penentu utama. Sedekah kecil yang tulus pun dapat menjadi sebab keselamatan.
5. Mendatangkan Keberkahan dan Ganti Rezeki
Allah berjanji dalam QS. Saba ayat 34 bahwa apa pun yang kita infakkan akan Dia ganti, dan Dia sebaik-baik pemberi rezeki. Rasulullah menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta (HR. Muslim).
Beliau juga mengabarkan bahwa setiap pagi ada dua malaikat turun. Satu berdoa agar orang yang berinfak diberi ganti, satunya berdoa agar orang yang menahan hartanya mendapat kebinasaan (HR. Bukhari dan Muslim). Jumlah harta mungkin tampak berkurang, tetapi keberkahan, kecukupan, dan ketenangan hidup justru bertambah.
6. Membersihkan Jiwa dari Kikir dan Cinta Dunia
QS. Al-Hasyr ayat 9 menyebut orang yang dijaga dari kekikiran dirinya sebagai orang yang beruntung. Sedekah melatih hati melepaskan keterikatan berlebihan pada harta. Pelakunya lebih bersyukur, lebih lapang, dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Inilah salah satu keutamaan sedekah dalam Islam yang sering tidak disadari: sedekah bukan hanya menolong penerima, tetapi juga mendidik hati pemberinya.
7. Pahala yang Terus Mengalir
Rasulullah bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Contoh sedekah jariyah adalah wakaf Al-Qur’an, pembangunan masjid, sumur untuk warga, dan dukungan bagi pendidikan.
Selama manfaatnya dinikmati orang lain, pahalanya terus mengalir kepada pemberi, bahkan setelah ia wafat.
8. Mempererat Persaudaraan dan Menolong Sesama
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Rasulullah mengumpamakan kaum beriman dalam saling mengasihi bagaikan satu tubuh; bila satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedekah menjadi wujud nyata persaudaraan itu. Ia meringankan beban yang kesulitan, mengurangi kesenjangan, dan menumbuhkan rasa saling percaya di tengah masyarakat.
Adab agar Sedekah Bernilai Maksimal
Pertama, ikhlaskan niat karena Allah, bukan untuk dipuji. Kedua, jangan menyebut-nyebut sedekah atau menyakiti perasaan penerima, sebagaimana peringatan QS. Al-Baqarah ayat 264. Ketiga, gunakan harta yang halal, karena Allah tidak menerima kecuali yang baik (HR. Muslim).
Keempat, dahulukan kewajiban, yaitu zakat, nafkah keluarga, dan pelunasan utang, sebelum memperbanyak sedekah sunah. Kelima, bersedekahlah sesuai kemampuan secara konsisten. Rasulullah bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Bila ingin bantuan tersalurkan tepat sasaran, pilihlah lembaga resmi yang transparan seperti BAZNAS atau LAZ.
Delapan keutamaan di atas menunjukkan bahwa sedekah adalah amal yang menguntungkan dunia dan akhirat: pahala berlipat, penghapus dosa, naungan di hari kiamat, penjaga dari neraka, pembuka keberkahan, pembersih jiwa, pahala yang terus mengalir, dan perekat persaudaraan. Memahami keutamaan sedekah dalam Islam seharusnya mendorong kita memulai dari yang mampu kita lakukan hari ini, sekecil apa pun.
Semoga Allah menerima sedekah kita, melipatgandakan pahalanya, dan menjadikannya naungan serta penyelamat di hari ketika tidak ada harta dan anak yang berguna. Aamiin.
Mari sempurnakan ibadah Anda dengan berzakat melalui BAZNAS, cukup klik link berikut ini: ZAKAT DISINI
ARTIKEL03/11/2026 | Humas BAZNAS RI
TELAH DIBUKA! Beasiswa Cendekia BAZNAS Timur Tengah tahun 2026.
Program ini merupakan langkah BAZNAS dalam memperluas jangkauan pendidikan bagi anak-anak bangsa yang menuntut ilmu jauh dari tanah air. Di Libya, Maroko, Mesir, Suriah, Tunisia, Turki, Yaman, dan Yordania, tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan. Melalui beasiswa ini, BAZNAS berikhtiar meringankan langkah mereka agar dapat belajar dengan tenang dan kelak pulang membawa manfaat bagi umat.
Beasiswa ini tidak berhenti pada bantuan biaya hidup. Para penerima manfaat juga memperoleh pembinaan rutin setiap bulan bersama BAZNAS dan Mitra BAZNAS, serta dukungan untuk mengikuti konferensi dan kompetisi. Harapannya, mereka tumbuh bukan sekadar sebagai sarjana, melainkan sebagai cendekia yang siap mengabdi.
Semoga ilmu yang mereka raih menjadi cahaya bagi keluarga, bangsa, dan agama. Semoga setiap langkah mereka di negeri rantau dicatat sebagai kebaikan yang tidak terputus.
Terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para muzaki. Zakat yang Sahabat tunaikan hari ini sedang berjalan jauh, menyeberangi benua, dan menjelma menjadi harapan di ruang-ruang kuliah Timur Tengah. Semoga Allah membalasnya dengan keberkahan yang berlipat ganda.
Informasi pendaftaran:
Dibuka 28 Oktober – 9 November 2026 puku 17.00 WIB
Panduan → bazn.as/JuknisBCBTimteng2026
Pendaftaran → bazn.as/DaftarBCBTimteng2026
Lini masa seleksi selengkapnya tertera pada gambar.
Pertanyaan seputar berkas dapat disampaikan ke @beasiswabaznasri.
#BeasiswaCendekiaBAZNAS #BCBTimteng2026 #BeasiswaTimurTengah #ZakatPenolongSesama #BAZNAS CahayaZakat
ARTIKEL03/11/2026 | Humas BAZNAS RI
Dari Baitullah Menuju Keberdayaan Ibadullah, Refleksi atas Ikhtiar BAZNAS Banten Menggerakkan KBIHU Sadar Zakat
Tulisan ini berangkat dari rasa gembira sekaligus apresiasi kepada BAZNAS Provinsi Banten yang mengundang para pimpinan KBIHU se-Provinsi Banten untuk duduk bersama membicarakan optimalisasi ZIS-DSKL. Tema yang diangkat terasa sangat relevan: “Gerakan KBIHU Sadar Zakat: Menghimpun ZIS-DSKL untuk Mewujudkan Haji dan Umroh yang Mabrur dan Berdampak.”
Bagi saya, undangan ini jangan dipandang sebagai sosialisasi biasa. Ini seperti ketukan kecil pada pintu besar dunia haji dan umrah kita.
Apalagi KBIHU bukan sekadar “tempat manasik”. Dalam materi pembinaan Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Banten ditegaskan bahwa KBIHU merupakan mitra resmi dan strategis pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tugasnya mencakup bimbingan dan pendampingan jamaah sejak di tanah air, dalam perjalanan, hingga di Arab Saudi. Orientasinya bukan membuat jamaah semakin bergantung kepada pembimbing, melainkan melahirkan jamaah yang mandiri, tertib, aman, dan mabrur.
Di sinilah saya melihat ada ruang besar yang selama ini mungkin belum kita optimalkan: kemandirian jamaah jangan hanya dimaknai sebagai kemandirian beribadah, tetapi juga harus bertumbuh menjadi kematangan sosial.
Kita selama ini sangat serius mengajarkan ihram, thawaf, sa’i, wukuf, mabit, melontar jumrah, dam dan berbagai larangan ihram. Semua itu tentu wajib dikuasai. Bahkan kesalahan dalam memahami syarat, rukun dan wajib haji dapat berakibat serius: ibadah bisa bermasalah atau jamaah terkena kewajiban dam. Karena itulah pembinaan fikih, mental, fisik dan kemandirian jamaah merupakan bagian sangat penting dari tugas KBIHU.
Tetapi ada pertanyaan lain yang rasanya juga patut masuk ke ruang manasik kita:
Sudahkah perjalanan menuju Baitullah sekaligus menjadi perjalanan membersihkan harta dan memberdayakan sesama?
Dan pertanyaan itu pertama-tama jangan diarahkan kepada jamaah.
Arahkan dahulu kepada diri kita sendiri.
Para pimpinan KBIHU, pimpinan PPIU, pembimbing dan pengelola yang selama bertahun-tahun memperoleh keberkahan rezeki dari melayani tamu-tamu Allah perlu berani bertanya: dari rezeki yang Allah alirkan melalui pelayanan haji dan umrah ini, sudahkah zakatnya kita tunaikan? Sudahkah sebagian kita infakkan? Sudahkah keberhasilan usaha kita ikut mengangkat kehidupan orang lain?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena KBIHU secara kelembagaan memang berhak menerima biaya jasa bimbingan dan pendampingan dari jamaah haji reguler maupun jamaah umrah. Pada saat yang sama, KBIHU dibatasi oleh seperangkat kewajiban dan larangan agar pelayanan jamaah tetap amanah—antara lain tidak menetapkan biaya bimbingan melebihi ketentuan, tidak mengelola atau mengambil living cost jamaah untuk operasional, serta tidak menerima setoran awal biaya perjalanan ibadah haji.
Artinya, dunia haji bukan hanya mempunyai dimensi ibadah. Di dalamnya terdapat pula arus ekonomi yang harus dikelola secara halal, amanah, profesional dan berdampak.
Karena itu sebelum mengajak jamaah menjadi muzakki, kitalah yang semestinya terlebih dahulu memberi teladan sebagai muzakki.
Sebelum mengajak jamaah menjadi munfiq, para pimpinan dan pengelola haji-umrah seyogianya menunjukkan bahwa rezeki dari pelayanan tamu Allah tidak berhenti menjadi pendapatan, tetapi juga melahirkan kemanfaatan bagi hamba-hamba Allah.
Sebab nasihat yang paling mudah diterima bukanlah yang paling keras disuarakan, melainkan yang terlebih dahulu dilakukan oleh orang yang menyampaikannya.
Setelah kesadaran itu tumbuh pada pimpinan, ZIS perlu masuk secara alami ke ruang-ruang manasik.
Inilah momentum emas.
Orang yang sedang mempersiapkan perjalanan menuju Baitullah biasanya berada dalam fase spiritual yang sangat istimewa. Ia mulai meminta maaf kepada keluarga dan tetangga, menyelesaikan utang, menyiapkan bekal halal, memperbanyak doa dan berharap pulang membawa predikat haji mabrur.
Hatinya sedang terbuka.
Maka alangkah indahnya jika pembimbing bertanya dengan lembut:
“Bapak-Ibu, sebelum kita membawa bekal menuju rumah Allah, sudahkah kita memastikan tidak ada hak Allah dan hak saudara kita yang masih tertinggal di dalam harta kita?”
Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi bagian penting dari manasik ruhani.
Ketika membahas ihram, kita bicara tentang kesetaraan.
Ketika membahas Arafah, kita bicara tentang persaudaraan.
Ketika membahas qurban dan dam, kita bicara tentang pengorbanan.
Ketika membahas kemabruran, kita bicara tentang kepedulian setelah kepulangan.
Dan ketika membahas bekal perjalanan, kita mengajak jamaah melakukan semacam “audit ruhani atas harta”: adakah zakat yang belum tertunaikan? Adakah kerabat yang membutuhkan? Adakah tetangga yang kesulitan? Adakah sebagian rezeki yang bisa diinfakkan sebelum kita berangkat memenuhi panggilan Allah?
Dengan begitu, ZIS bukan “jualan program” di tengah manasik. Ia menjadi bagian dari pendidikan menuju kemabruran.
Ada Ekonomi Besar di Balik Ibadah Haji
Ada satu angka dalam materi Kementerian Haji dan Umrah Banten yang menurut saya sangat menggugah.
Disebutkan jamaah haji Provinsi Banten berjumlah sekitar 9.023 orang. Materi tersebut kemudian membuat simulasi potensi dam sebesar Rp4 juta per jamaah, sehingga menghasilkan angka sekitar Rp36,092 miliar. Catatan kecil: pada slide tertulis dalam huruf “tiga puluh enam triliun”, tetapi hasil perkalian 9.023 × Rp4.000.000 secara matematis adalah Rp36,092 miliar.
Angka itu baru dam.
Belum zakat, infak, sedekah, fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya. Belum pula kekuatan ekonomi jamaah haji, jamaah umrah, alumni dan keluarga mereka.
Yang lebih menarik, materi tersebut tidak sekadar melihat dam sebagai persoalan fikih. Di sana disebut pula potensi kebutuhan ribuan kambing dari jamaah Banten dalam satu tahun yang dapat dikaitkan dengan potensi peternakan dan UMKM.
Nah, di sinilah perspektif kita perlu diperluas.
Bisakah ekosistem haji dan umrah ikut membangun ekosistem ekonomi umat?
Bayangkan bila kebutuhan yang berkaitan dengan perjalanan ibadah secara bertahap terkoneksi dengan peternak kecil, UMKM, pesantren produktif dan kelompok masyarakat binaan. Maka haji tidak hanya menghasilkan perputaran ekonomi besar, tetapi sebagian manfaat ekonominya juga dapat menjadi energi pemberdayaan.
Tentu semuanya harus berjalan dalam koridor regulasi, syariat dan tata kelola yang benar.
Materi tersebut juga menjelaskan bahwa mayoritas jamaah Indonesia menjalankan haji tamattu’, yang melahirkan kewajiban dam; haji qiran juga mewajibkan dam, sedangkan haji ifrad pada dasarnya tidak terkena dam karena jenis hajinya. Bahkan dam sendiri memiliki beragam kategori sesuai sebab dan pelanggarannya.
Artinya, jangan sampai semangat pemberdayaan membuat kita menyederhanakan persoalan fikih. Dam tetaplah ibadah dengan ketentuan syariatnya; ZIS pun memiliki ketentuannya sendiri. Yang kita dorong adalah bagaimana potensi ekonomi yang menyertai seluruh ekosistem tersebut dikelola semakin amanah dan maslahat.
Jamaah Bukan “Pasar Muzakki”
Dalam daftar undangan BAZNAS Banten terdapat 91 KBIHU dari berbagai wilayah di Provinsi Banten.
Bayangkan kekuatan sosialnya.
Jika setiap KBIHU membina ratusan jamaah dan alumni, maka sesungguhnya terdapat jaringan puluhan ribu keluarga. Belum lagi jika ekosistem ini diperluas dengan PPIU dan jamaah umrah yang keberangkatannya berlangsung hampir sepanjang tahun.
Tetapi saya ingin memberi garis tebal:
jangan sampai jamaah dipandang sebagai “pasar muzakki”.
Jamaah bukan objek penghimpunan uang.
Mereka adalah manusia yang sedang kita bimbing menuju kematangan ibadah sekaligus kematangan sosial. Karena itu pendekatannya jangan hanya:
“Ayo bayar zakat.”
Melainkan:
“Bapak-Ibu sebentar lagi menjadi tamu Allah. Mari kita berangkat dengan harta yang semakin bersih dan hati yang semakin peduli kepada hamba-hamba Allah.”
Di sinilah sinergi BAZNAS dengan KBIHU dan PPIU menjadi penting. KBIHU/PPIU tidak harus berubah menjadi lembaga zakat baru. Kekuatan kita justru berada pada keteladanan pimpinan, edukasi, kedekatan dengan jamaah, serta jaringan alumni. Sedangkan tata kelola ZIS dapat disinergikan dengan lembaga resmi agar penghimpunan, pencatatan, penyaluran dan pertanggungjawabannya profesional.
Dan gerakan itu jangan selesai ketika jamaah pulang.
Materi Kementerian Haji dan Umrah sendiri menempatkan pembinaan pascahaji untuk memelihara kemabruran di tengah masyarakat sebagai salah satu tahapan pembinaan jamaah.
Maka grup alumni jangan hanya ramai ketika ada reuni atau paket umrah berikutnya.
Jadikan ia komunitas kemabruran dan keberdayaan.
Yang memiliki kelebihan harta menjadi muzakki dan munfiq. Yang mempunyai usaha membuka kesempatan kerja. Yang memiliki keahlian menjadi mentor. Yang memiliki jaringan membantu pemasaran. Sementara saudara kita yang masih menjadi mustahiq tidak hanya diberi santunan sesaat, tetapi didampingi hingga mampu mandiri.
Sebab keberhasilan zakat bukan hanya:
berapa banyak rupiah yang berhasil dihimpun,
tetapi juga:
berapa banyak mustahiq yang perlahan berhasil kita antarkan menjadi muzakki.
Di situlah kata berdaya menemukan maknanya.
Saya membayangkan suatu hari ukuran kebanggaan KBIHU dan PPIU tidak lagi berhenti pada kalimat:
“Alhamdulillah, tahun ini kami memberangkatkan 500 jamaah.”
Tetapi berlanjut:
“Alhamdulillah, dari keberkahan 500 tamu Allah itu lahir beasiswa untuk anak-anak tidak mampu, modal UMKM, peternakan binaan, bantuan pesantren, layanan dhuafa, dan keluarga-keluarga yang dahulu mustahiq perlahan tumbuh menjadi muzakki.”
Betapa indahnya.
Kita tetap profesional mengurus keberangkatan. Kita tetap khusyuk membimbing manasik. Kita tetap mengantarkan jamaah menuju Arafah dan Baitullah.
Tetapi tugas kita tidak selesai di sana.
Kita mengantarkan orang-orang yang mampu menuju rumah Allah, sekaligus mengajak mereka menoleh kepada hamba-hamba Allah yang belum berdaya.
Maka saya memandang pertemuan yang digagas BAZNAS Banten ini bukan sekadar agenda kelembagaan. Ia bisa menjadi embrio sebuah gerakan besar:
Mulai dari diri pimpinan.
Masuk ke ruang manasik.
Dibawa menuju Baitullah.
Dipelihara setelah kepulangan.
Dikelola secara amanah.
Lalu dikembalikan menjadi keberdayaan umat.
Sebab mungkin salah satu tanda bahwa kita benar-benar pernah mendekat kepada Baitullah adalah: sepulang dari sana kita semakin dekat, peduli dan berguna bagi ‘ib?dull?h—hamba-hamba Allah.
H. Muhamad Robi, Lc., MH.
Wakil Ketua FK-KBIHU Banten
ARTIKEL02/09/2026 | H. Muhamad Robi, Lc., MH.

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Banten.
Lihat Daftar Rekening →